Berita tentang Kerajaan Melayu antara lain diketahui dari dua buah buku karya Pendeta I-tsing atau I Ching (634-713)dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671, singgah di negeri Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya (tatabahasa Sansekerta). Ketika pulang dari India tahun 685, I-tsing bertahun-tahun tinggal di TentangKami; Redaksi; Pedoman; Disclaimer; Kontak; Latest Post. Donor Darah Sempena HUT Pekanbaru, Targetkan 400 Kantong Darah. Bapenda Raup Rp212 Juta dari Piutang PBB Dalam Seminggu. Kamis, 09 Juni 2022. Dr Reda Manthovani SH,LLM Ajak SMSI Sosialisasikan Undang-Undang ITE. Rabu, 08 Juni 2022. KERAJAANSRIWIJAYA. Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada waktu itu (abad 7 - 13 M). Sumber-sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti dari Cina, India bahkan Arab. Sumber-sumber dari dalam negeri. Prasastiprasasti dalam aksara Jawa Kuno, bukan bahasa Arab, ditemukan pada banyak serangkaian batu nisan bertanggal sampai 1369 M di Jawa Timur, menunjukkan bahwa mereka hampir pasti adalah Jawa pribumi, bukan Muslim asing. Sebuah penaklukan oleh Muslim di daerah ini terjadi pada abad ke-16. Dalam studinya tentang Kesultanan Banten, Martin KemaharajaanSriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di diketahui imperium ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang.Di abad ke-7 ini, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 ditemukan di pulau Bangka ckLPa. Tonggak-tonggak kayu sisa dermaga pelabuhan Kota Kapur di tepi sungai Menduk, Bangka. Dok. Puslit Arkenas. Sebagian besar prasasti kutukan yang dikeluarkan penguasa Sriwijaya ditempatkan di daerah strategis dari sisi ekonomi. Tujuannya untuk mengikat masyarakat agar tak memberontak dan patuh terhadap perintah raja. Beberapa prasasti kutukan yang ditemukan di Palembang yaitu Prasasti Bom Baru, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka dan Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sedangkan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Menurut Sondang M. Siregar, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam “Prasasti-Prasasti Kutukan dari Masa Sriwijaya”, termuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, kata “kutuk” dan “semoga” berkat sering tertulis di prasasti-prasasti itu. Kutukan ini merupakan pesan penting dari pembuat prasasti kepada masyarakat di lokasi prasasti ditempatkan. “Mungkin di daerah itu terdapat permasalahan sehingga prasasti kutukan harus dibuat,” tulis Sondang. “Banyaknya prasasti Sriwijaya yang berisikan kutukan dan diletakkan di berbagai tempat mengindikasikan adanya masalah pada masa Sriwijaya.” Palembang, contohnya, pada mulanya menjadi lokasi transit kapal-kapal dari dalam dan luar negeri karena letaknya strategis. Ia menjadi persinggahan kapal-kapal yang masuk dari Selat Bangka menuju perairan Sungai Musi. Selanjutnya, Palembang menjadi daerah perdagangan, pusat kesenian, dan agama. Prasasti Telaga Batu menyebutkan para pejabat di Kerajaan Sriwijaya. “Ini mengindikasikan pusat pemerintahan Sriwijaya pernah berada di sekitar Prasasti Telaga Batu,” tulis Sondang. Filolog asal Belanda, de Casparis, menulis dalam Prasasti Indonesia bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti itu adalah mereka yang dikategorikan berbahaya. Mereka dianggap berpotensi melawan Kedatuan Sriwijaya. Karenanya mereka perlu disumpah. Sejarawan Jerman, Hermann Kulke, dalam “Kadatuan Srivijaya-Imperium atau Keraton Sriwijaya?” yang termuat di Kedatuan Sriwijaya, menjelaskan sebagaimana tertulis dalam prasasti, orang-orang berbahaya di kedatuan ini bukan saja para pangeran dan komandan tentara yang dapat menggalang pemberontakan ketika mereka jauh dari pusat. Tetapi juga sejumlah abdi rendahan yang mudah menjangkau raja, seperti juru tulis, tukang cuci, budak, pelaut, dan pedagang, bisa sangat berbahaya. “Maksud Prasasti Sabokingking adalah memberikan ancaman sebesar-besarnya kepada semua lawan, dan bukan melegitimasi klaim Sriwijaya untuk memerintah mereka,” tulis Kulke. Prasasti Sabokingking adalah nama lain dari Prasasti Telaga Batu. Prasasti kutukan juga ditemukan di Boombaru, daerah yang dekat dengan Sungai Musi. Menurut Sondang, prasasti kutukan diletakkan di sana agar penguasa bisa mengontrol dan mengawasi aktivitas perdagangan dari daratan menuju sungai atau sebaliknya. “Mengawasi masyarakat yang berkhianat atau pemberontak yang hendak masuk ke Sriwijaya melalui Sungai Musi,” tulis Sondang. Prasasti Kota Kapur ditempatkan di daerah paling strategis, Pulau Bangka. Lokasi itu berada di jalur pelayaran internasional. Pulau Bangka menjadi lokasi transit kapal-kapal lokal maupun luar negeri. “Kapal-kapal yang datang dan pulang pasti melalui Selat Bangka,” tulis Sondang. Prasasti Kota Kapur juga menunjukkan bahwa lokasi itu pernah diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya dengan tujuan mengawasi atau mengontrol kegiatan perdagangan di pantai timur Sumatra. Prasasti Karang Berahi, prasasti kutukan di Jambi. Dok. Kemendikbud. Situs Karang Berahi berada di tepian Sungai Merangin, Jambi. Sungai ini dapat dilayari kapal untuk mengangkut hasil bumi dari wilayah sekitarnya, seperti rotan, manau, getah, damar, jenang, dan damar. Situs itu berdekatan dengan situs Buddhis, yaitu Tingkip dan Bingin Jungut. Menurut Sondang, sungai yang mengalir di ketiga lokasi ini mengandung bijih-bijih emas. “Penguasa Sriwijaya menempatkan prasasti kutukan di Desa Karangberahi untuk mengawasi perdagangan di Perairan Sungai Musi dan Batanghari,” tulis Sondang. Baca juga Membantah Sriwijaya Fiktif Kemudian Prasasti Palas Pasemah dan Jabung di daerah Lampung. Tempat ditemukannya prasasti itu berada di aliran Sungai Sekampung. Keduanya merupakan kecamatan yang berdekatan. Palas Pasemah ada di sisi selatan Jabung. Keduanya adalah daerah subur dan punya hasil perkebunan. “Keberadaan prasasti kutukan di dua daerah ini menunjukkan bahwa daerah ini potensial,” tulis Sondang. Penguasaan dua daerah ini diperkirakan untuk mengawasi atau mengontrol kegiatan perdagangan di bagian selatan Pulau Sumatra. Pun untuk mengawasi jalur perdagangan di Selat Sunda. Arkeolog Universitas Indonesia, Ninie Susanti, menjelaskan, untuk menancapkan hegemoninya, Sriwijaya mengeluarkan enam prasasti kutukan. Isinya adalah ancaman bagi mereka yang berani melawan raja. Baca juga Tiga Faktor yang Membuat Sriwijaya Jadi Kerajaan Kuat Kekuatan Sriwijaya terlihat dari mandala-mandala yang mengakui kedaulatannya, yaitu Kota Kapur, Jambi, Lampung, dan Baturaja. Mandala-mandala yang mengakui kedaulatan Sriwijaya itu bersatu karena memiliki kepentingan yang sama. “Kepentingan utamanya, yaitu berdagang, menjadi konsensus bersama di antara masyarakat sipil yang ada di wilayah Kedatuan Sriwijaya,” kata Ninie. Menurut Ninie, tokoh intelektual pembentukan pemerintahan maritim adalah para datu pemimpin mandala, red. yang mempunyai kepentingan bersama dengan Sriwijaya. Ini yang kemudian muncul dalam Prasasti Karang Berahi, Kota Kapur 1 dan 2, Baturaja, Palas Pasemah, dan Bom Baru. Kalimat kutukan atau sapatha, menurut arkeolog Universitas Gadjah Mada, Tjahjono Prasodjo, merupakan cara agar semua orang patuh pada keputusan penguasa. Sanksi yang dipilih ini lebih bersifat sakral kedewaan, bukannya sanksi atau denda sebagaimana masa sekarang. “Saya kira pada zamannya, ketika orang sangat percaya dengan kekuatan kutukan, itu adalah cara yang paling efektif untuk mengamankan dan melindungi kelangsungan sebuah penetapan atau piagam,” ujar Tjahjono. Menurut Danang Indra Prayudha dalam “Pengertian Pranantika dalam Sapatha Tinjauan Prasasti Tuhanaru”, temuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, bentuk-bentuk hukuman atau malapetaka dalam sapatha secara psikologis akan menimbulkan rasa takut atau kengerian bagi masyarakat. Dampak rasa takut yang muncul itulah yang digunakan agar masyarakat menghindari perbuatan yang dilarang. Sebagaimana pula yang dicatat dalam Prasasti Telaga Batu atau Sabokingking "Kedamaian abadi akan menjadi buah yang dihasilkan kutukan ini." 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID a-WRakZg33Db8W1bB-_p4mU-9xvZTNCtAS4TtphRLuKUBWyKuCSufw== - Sriwijaya dalam historiografi Indonesia lebih dikenal sebagai suatu emporium maritim nan mapan. Menimbang pengaruhnya yang merambat ke berbagai pulau di Indonesia bagian barat, Muhammad Yamin kemudian menyebutnya sebagai Negara Nasional Jilid I. Yamin—juga para sejarawan pelanjutnya di zaman Orde Baru—juga menggabungkan sejarah Sriwijaya dalam satu wacana yang dikenal sebagai Persatuan 6000 Tahun Indonesia Agenda itu lantas dikritik oleh M. Wood dalam Sejarah Resmi Indonesia versi Orde Baru dan Para Penentangnya 2013. Wacana glorifikasi sejarah yang berlebihan semacam itu memang punya sisi negatif. Salah satunya adalah terpinggirkannya narasi-narasi kecil Sriwijaya yang juga penting untuk dipelajari. Misalnya, bagaimana penguasa Sriwijaya menyikapi barang psikotropika dan perilaku bermadat. Para datuk Sriwijaya adalah sosok yang gemar sekali mengutuk. Kutukan atau sapatha yang mereka lontarkan bahkan jamak tercatat dalam prasasti. Tengoklah beberapa prasasti tinggalan Sriwijaya yang ditemukan di daerah Palembang, Bangka, Jambi, dan Lampung. Namun, itu kutuk bukan sembarang kutuk. Kutukan yang disampaikan oleh datuk Sriwijaya umumnya berkenaan dengan hukuman bagi sesiapa yang melanggar aturan bermasyarakat atau mencederai kesetiaan kepada kerajaan. Termasuk salah satunya soal candu. Buktinya terdapat dalam Prasasti Kota Kapur dan Karang Brahi 686 M. Dua prasasti yang masing-masing ditemukan di Pulau Bangka dan Jambi itu memuat inskripsi berbunyi “Tathāpi savaňakňa yaŋ vuatňa jāhat. makalaṅit uraŋ. Makasākit. Makagīla. Mantrā gada. viṣaprayoga. upuḥ tūva. Tāmval. Sarāŋvat. ityevamādi. jāṅan muaḥ ya siddha. Pulaŋ ka iya muaḥ. Yaŋ doṣāňa vuatňajāhat inan. Tathāpi nivunuḥ ya sumpah...” Bila diterjemahkan, isinya akan berbunyi “Lagi pula biar semua perbuatannya yang jahat, seperti mengganggu ketentraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja, saramvat ?, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya semoga perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu, biar pula mereka mati kena kutuk.” Kata Melayu Kuno tāmval yang biasa diartikan sebagai ganja di dalam kedua prasasti itu berakar dari bahasa Sanskerta “tāmbala”. Kata tāmbala sebenarnya lebih merujuk pada olahan ganja yang disebut hasis, bukan ganja kering yang lebih sering ditemui di masa sekarang. Hasis merupakan bubuk daun ganja yang diolah hingga menjadi seperti adonan dodol. Para penggemar hasis di masa lalu mengonsumsinya dengan cara dibakar dan diisap menggunakan cangklong atau diuapkan melalui bong. Meski perilaku memadat dikutuk habis oleh raja-raja Sriwijaya, nyatanya kutukan itu tidak berlaku untuk semua orang. Ada golongan-golongan tertentu yang lepas dari larangan itu dengan alasan khusus. Ganja dalam Ritual Keagamaan Golongan khusus yang dimaksud kemungkinan adalah para penguasa dan pemangku agama. Pasalnya, bahan-bahan psikotropika sudah lama menjadi primadona bagi beberapa agama di dunia, termasuk agama Hindu dan Buddha yang sempat menjadi arus utama kepercayaan masyarakat Nusantara di masa klasik. Di India, olahan tanaman dari rumpun Cannabis itu sudah lama lekat dengan ritual keagamaan. Hal itu dapat dilacak dalam teks berbahasa Indo-Eropa tertua di anak benua itu, Rig-Veda. Menurut Mark S. Ferrara dalam “Peak-experience and the Entheogenic Use of Cannabis in World Religions” yang terbit dalam Journal of Psychedelic Studies 2020, praktek shamanisme dalam Rig-Veda sering menunjukan adanya simbolisasi dari proses kematian dan kebangkitan. Dalam proses itu, sang resi atau pendeta yang diagungkan menjalankan beberapa laku, seperti berpuasa, menahan hawa nafsu birahi, memanipulasi pernapasan, membaca mantra secara repetitif, dan mengonsumsi psikotropika. Karena ganja memang tumbuh subur di India, tumbuhan berdaun jari itu kemudian menjadi pilihan terdepan dalam upacara-upacara yang tujuan akhirnya adalah mencapai trance kondisi tidak sadar. Dalam ajaran Veda pra-Hindu, sambung Ferarra, dikenal istilah soma yang dianggap sebagai “makanan surgawi” yang bumbunya dirahasiakan. Setelah ditelusuri lebih lanjut, salah satu bahan utama soma adalah hasis. Soma disajikan kepada para resi sebelum upacara penyatuan manusia dengan para dewa unsur alam dilakukan. Para resi melakukan ritual ini demi terkabulnya pengharapan akan beberapa hal, seperti menangkal roh, menyembuhkan penyakit, mendatangkan kesejahteraan, dan membuka jalan keselamatan. Sementara itu dalam Buddhisme, menurut Ferrara, konsumsi ganja baru benar-benar terlihat signifikan dalam praktik esoteris Vajrayana atau Tantrayana yang berkembang di Tibet. Teks Tantrik tertua yang menyebut soal penggunaan ganja adalah Yogaratnamala. Teks yang diasosiasikan dengan guru besar Buddha Vajrayana Nagarjuna itu merekomendasikan adanya proses mengisap ganja untuk “meruntuhkan para musuh”. Konsep ini berkenaan dengan proses pembebasan penganut Tantra dari kemelekatan duniawi yang dianggap sebagai musuh. Bagi mereka, yoga terbaiknya adalah melakukan prosesi trance melalui ganja. Pada perkembangannya, ganja kemudian makin populer sebagai suatu simbol keagamaan Tantra. Di titik ini, ganja disinonimkan dengan nama-nama Boddhisatva yang diyakini dalam Buddha Tantrayana. Dalam mitologi, ganja seringkali disebut sebagai Trailokyavijaya atau wujud ganas emanasi Buddha yang mengalahkan Dewa Siwa dan Parwati. Infografik Mozaik Ganja & Sriwijaya. Simbol Religio-Politik Para Datuk Kedudukan ganja dalam kepercayaan Hindu dan Buddha seperti diuraikan sebelumnya juga berlaku dalam masyarakat Sriwijaya. Sebagaimana disebut oleh George Coedes dkk. dalam Kedatuan Sriwijaya Kajian Sumber Prasasti dan Arkeologi 2014, berdasar informasi yang tersurat atau tersirat dalam prasasti dan tinggalan purbakala lain, para penguasa Sriwijaya lamat-lamat menampakkan ciri penganut Tantrayana. Maka boleh jadi mereka juga punya hubungan erat dengan ganja dalam praktik ritual Tantrayana. Lantas mengapa para datuk Sriwijaya justru mengutuk—atau bisa juga diartikan sebagai bentuk larangan—penggunaan ganja? Dalam konteks Sriwijaya, hal itu agaknya berkaitan dengan simbol religio-politik. Menurut M. Alnoza dalam “Konsep Raja Ideal Sriwijaya berdasarkan Sumber Tertulis” yang diterbitkan di jurnal Jumantara 2020, para datuk Sriwijaya memposisikan dirinya sebagai penganut laku Tantrayana yang sempurna. Para datuk Sriwijaya secara religio-politik berada di puncak hierarki dan tidak dapat disamakan dengan rakyat biasa. Karenanya, mereka memiliki hak istimewa untuk menggunakan ganja dalam ritual Tantrayana. Maka ganja bisa pula disebut sebagai bagian dari simbol politik eksklusif sekaligus simbol keagamaan yang melekat pada diri datuk Sriwijaya. Menilik hal ini, rakyat biasa tentu tidak bisa sembarangan mengonsumsi ganja. Dan melanggar aturan ini, seturut apa yang tertulis dalam prasasti, bisa dianggap sebagai bentuk pemberontakan terhadap sang datuk. - Sosial Budaya Kontributor Muhamad AlnozaPenulis Muhamad AlnozaEditor Fadrik Aziz Firdausi Kerajaan Sriwijaya sempat menjadi salah satu yang terbesar di Nusantara. Tepatnya berdiri pada sekitar abad ke-7 Masehi di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Rachman Haryanto/detikcom Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang diterbitkan dalam bentuk buku pengayaan berjudul Rumah Peradaban Sriwijaya di Muarajambi Persinggahan Terakhir, Kerajaan Sriwijaya lahir pada abad ke-7 Masehi. Pendirinya disebut bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Gunawan Kartapranata/Wikipedia Keterangan ini tertulis pada salah satu prasasti yang ditemukan di Kota Kapur, Mendo Barat, Bangka. Prasasti yang disebut Prasasti Kota Kapur ini menyatakan institusi kekuasaan tersebut bernama Kadatuan Sriwijaya. Darwance Law/d'Traveler Kadatuan Sriwijaya diduga kuat berpusat di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Alasannya, enam dari 12 prasastinya, bahkan yang tertua, ditemukan di daerah Palembang, yaitu Prasasti Kedukan Bukit 682 Masehi, Talang Tuo 684 Masehi, serta prasasti Telaga Batu, Boom Baru, Kambang Unglen 1, dan Kambang Unglen 2. Rachman Haryanto/detikcom Arkeolog Prancis George Coedes menyebut pada tahun 683-686 nama Sriwijaya muncul dalam tiga prasasti berbahasa Melayu Kuno. Prasasti Kedukan Bukit, Karang Brahi di daerah pedalaman Jambi, dan Kota Kapur. Rachman Haryanto/detikcom Kerajaan Sriwijaya menguasai maritim dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Nia Kurnia Sholihat Irfan dalam bukunya Kerajaan Sriwijaya Pusat Pemerintahan dan Perkembangannya menyebut sumber-sumber China mencatat kapal Sriwijaya memiliki panjang sampai 60 meter dan mampu memuat penumpang sampai 1000 orang. Wikipedia Commons/Michael J. Lowe Raja Balaputradewa dianggap sebagai raja yang membawa Sriwijaya ke puncak kegemilangannya pada abad ke-8 dan 9. Namun pada dasarnya, kerajaan ini mengalami masa kekuasaan yang gemilang sampai ke generasi Sri Marawijaya. Rachman Haryanto/detikcom Namun masa jaya Sriwijaya mulai meredup dimulai pada awal abad ke-11 Masehi. Penyebabnya karena adanya serangan dari Kerajaan Cola di India Selatan yang ingin mengambil alih kendali perdagangan di Selat Malaka. Ady Candra/d'Traveler Prasasti Rajaraja I yang memiliki tahun 1030/31 Masehi dari Tanjore menceritakan kisah tentang penaklukan Cola atas Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Selat Malaka. Saat itu pemimpin Sriwijaya Sangramawijayottungawarman ditawan. Nama Kerajaan Sriwijaya perlahan tak terdengar lagi. Grandyos Zafna/detikcom Sementara itu sejarah Indonesia mencatat salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Sriwijaya adalah berkurangnya kapal dagang yang singgah. Semakin sedikitnya kapal dagang yang singgah berakibat pada aktivitas jual-beli dan perdagangan samakin berkurang. Karenanya, pendapatan Kerajaan Sriwijaya dari pajak kapal juga makin menurun dan membuatnya bangkrut. Gusmun/detikcom Jejak Kerajaan Sriwijaya masih ada hingga kini. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terbaru ditemukan oleh nelayan Sungai Musi, Palembang, Sumatra. Dok. musinTreasure galery Temuan para nelayan ini luar biasa, karena berisi harta karun. Raja Adil Siregar/detikcom Selain itu ada juga patung Buddha abad ke-8 berukuran besar bertatahkan permata berharga. Raja Adil Siregar/detikcom Dr Sean Kingsley, seorang arkeolog maritim Inggris, dikutip dari The Guardian, menggambarkan harta karun itu sebagai bukti definitif bahwa Sriwijaya adalah "dunia air" karena orang-orangnya tinggal di sungai seperti manusia perahu modern, seperti yang dicatat oleh teks-teks zaman kuno. Dok. Detikcom Mahasiswa/Alumni Universitas Negeri Yogyakarta31 Januari 2022 0924Halo Evamardiana E. Kakak bantu jawab ya. Prasasti yang menjelaskan tentang penaklukan Jambi oleh Sriwijaya yaitu tertulis di prasasti Karang Berahi. Berikut penjelasannya ya. Prasasti Karang Berahi pertama kali ditemukan oleh L. Berkhout di Bangko, Provinsi Jambi pada 1904. Mantan Residen Jambi, Helfrich, menyatakan bahwa pada awal penemuannya, prasasti ini terletak di kaki tangga masjid dan digunakan sebagai ubin pencuci kaki. Prasasti Karang Berahi berangka tahun 608 Saka 686 M. Isi prasasti ini memperjelas bahwa secara politik, Sriwijaya bukanlah negara kecil, melainkan memiliki wilayah yang luas dan kekuasaannya yang besar. Prasasti ini juga memuat penaklukan Jambi. Semoga membantuŸ˜Š

berita tentang penaklukan jambi oleh sriwijaya tertulis dalam prasasti